Tampilkan postingan dengan label Penderitaan Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penderitaan Muslim. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2009

Ahmadinejad: Berani Serang Iran, AS Akan Menyesal

Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad kembali mengancam akan melakukan
pembalasan yang “menyakitkan” jika AS berani menyerang negaranya.

“Mereka menyadari bahwa jika mereka melakukan kesalahan itu, pembalasan Iran akan sangat keras dan mereka akan menyesal,” tegas Ahmadinejad dalam konferensi pers di sela-sela kunjungannya ke Uni Emirat Arab, Senin (14/5).

“Semua orang tahu, mereka tidak bisa menyerang kami. Iran mampu mempertahankan dirinya sendiri. Iran adalah negara yang kuat,” sambungnya.

Ahmadinejad juga menegaskan bahwa Barat tidak bisa menghentikan program energi nuklir Iran, karena Iran menginginkan energi tambahan untuk listriknya guna mendorong ekspor minyak lebih besar lagi.

“Negara-negara superpower tidak bisa mencegah kami memiliki energi nuklir,” tukas Ahmadinejad.

Seperti biasanya, dengan kata-katanya yang keras, Ahmadinejad menyerukan agar pasukan AS meninggalkan kawasan Teluk. Menurutnya, kawasan Teluk harus membebaskan diri dari kekuatan asing yang telah menyebabkan ketidakstabilan keamanan di wilayah itu.

“Mereka telah campur tangan di wilayah ini dan membuatnya menjadi tidak aman. Klaim mereka yang mengatakan bahwa kawasan Teluk kurang aman, adalah alasan bagi kehadiran mereka di sini. Persoalannya adalah adanya intervensi asing,” tegas Presiden Iran itu.

Pada kesempatan itu, Ahmadinejad menyatakan bahwa negaranya sudah setuju mengabulkan permintaan AS untuk bicara dengan Iran tentang Irak.

“Amerika telah meminta bicara dengan Iran untuk membahas masalah keamanan di Irak. Dan untuk mendukung rakyat Irak, kami bersedia bicara dengan mereka,” ujar Ahmadinejad. (eramuslim/ln/aljz)
READ MORE - Ahmadinejad: Berani Serang Iran, AS Akan Menyesal

Dalam Waktu Dekat, Israel Akan Hancurkan Bagian Bangunan Masjidil Aqsa

Palestina - Pemerintah Israel akan menghancurkan bagian dari bangunan masjidil Aqsa dalam waktu dekat ini, kata Yayasan Al-Aqsa yang bergerak dalam penjagaan tempat suci, Kamis kemarin.

Dalam surat kilat yang dikirimkan ke islam al-yaum, yayasan mengatakan, penghancuran dilakukan dengan melenyapkan jalan Magharibah yang merupakan bagian tak terpisahkan dari bangunan masjid.

Untuk menghancurkan jalan, sebagaimana banyak diekspos harian Israel, pemerintah Israel menawarkan tendernya kepada masyarakat Israel. Menurut rencana, setelah proyek ini selesai, Israel akan memperluas ruangan shalat orang Yahudi.

Lembaga “Sunduq Turats Mabka” yang memiliki hubungan langsung dengan perdana menteri Israel diyakini berada di balik aksi penghancuran ini. Pemerintah Israel juga telah menyiapkan dana 1, 1 juta dolar untuk melaksakan rencana ini.

Sebenarnya, kata yayasan, rencana ini telah diumumkan oleh Israel beberapa waktu lalu. Tapi, ditunda menunggu waktu yang tepat lantaran reaksi keras dari umat Islam.

Kini, di saat mata dunia dan pers terkonsentrasi kepada perang Israel dan Libanon, Israel akan merealisasikan rencana itu dalam beberapa hari lagi.

Sumber: http://www.alislam.or.id

READ MORE - Dalam Waktu Dekat, Israel Akan Hancurkan Bagian Bangunan Masjidil Aqsa

Satu Dari Empat Warga Israel Berada di Bawah Garis Kemiskinan

TEL AVIV (Arrahmah.com) - Israel membelanjakan jutaan dollar untuk membiayai agresi militernya ke Gaza baru-baru ini dan menghasilkan satu dari empat warga mereka berada di bawah garis kemiskinan.

Data yang dikutip dari mingguan Perancis, L'Express, menyebutkan Institut Asuransi Nasional Israel melaporkan kemiskinan di Israel kian meningkat tajam dari pertengahan 2007 hingga akhir 2008.

Jumlah masyarakat miskin bertambah dan diperkirakan satu dari empat warga berada di bawah garis kemiskinan, yang mewakili 1,63 juta orang miskin, termasuk 777.400 anak-anak di antaranya.

Sebuah laporan terbaru oleh harian Israel, Haaretz dalam websitenya melaporkan keluarga miskin yang tidak memiliki pekerjaan meningkat, dari 69 persen kini mencapai 71.4 persen. Jumlah keluarga miskin yang masih bekerja dengan dua atau lebih pencari nafkah juga meningkat dari 21,3 persen kini mencapai 23,6 persen.

Majalah L'Express juga menambahkan bahwa krisis global mengakibatkan 14.000 pekerja industri harus melepaskan pekerjaan mereka.
READ MORE - Satu Dari Empat Warga Israel Berada di Bawah Garis Kemiskinan

Alfabet Gaza, A Untuk Apache, B untuk Blood (Darah)

"A Untuk Apache, B untuk darah," Shaimaa kecil menuliskan di buku tulis berwarnanya.

Itu bukanlah tugas dari pihak sekolah, tetapi alfabet terbaru anak-anak yang menjadi korban kebrutalan Israel di Jalur Gaza.

"A untuk apel dan B untuk bola, kini tidak berlaku lagi dalam masa perang," ujar seorang anak berusia 10 tahun.

Dalam buku catatannya, Shaimaa memiliki banyak koleksi alfabetis, keseluruhannya diambil dari hal-hal yang ia temui selama agresi militer zionis Israel beberapa waktu lalu yang telah memakan korban lebih dari 1.350 jiwa termasuk di antaranya 437 anak-anak dan melukai lebih dari 5.450 lainnya.

"C untuk peti mati (coffin) dan D untuk penghancuran (destruction)."

Hampir semua anak-anak Gaza melakukan hal yang sama dengan Shaimaa. Mereka membuat kata-kata dari susunan alfabet berdasarkan pengalaman mereka melihat dan merasakan sendiri kekejaman Israel dalam perang yang baru saja usai.

Seorang guru di Gaza bernama Amal Yunis mengakui banyak anak-anak di tingkat taman kanak-kanak di kelasnya yang juga menggunakan kata-kata yang hampir sama dengan yang digunakan Shaimaa. Ia menceritakan pengalamannya ketika mengajar di dalam kelas, ia menempelkan gambar apel (Apple), bunga (Flower) dan kelinci (Rabbits) dengan warna-warna yang mencolok dengan maksud membuat anak-anak senang melihatnya. Amal lalu bertanya pada murid-muridnya,"Anak-anak, siapa yang tahu kata yang diawali dengan huruf 'F'?

Seorang murid bernama Amgad menjawab dengan tangkas, "Bu, F untuk F-16."

Yunis berusaha menjelaskan dan meyakinkan murid-muridnya bahwa jawaban yang benar adalah "Flower". Tapi ia makin terkejut ketika siswa-siswi kecilnya malah memberikan kata-kata yang lain seperti "Fear" (takut), "Flee" (mengungsi) dan "Fire" (api,tembakan).

Serangan keji Israel ke Gaza membuat anak-anak di Gaza kini akrab dengan bahasa-bahasa yang merefleksikan pengalaman mengerikan mereka selama perang berlangsung. Seorang ibu bernama Umi Faras mengatakan, anak-anaknya kini lebih banyak memperbincangkan tentang perang, pemboman dan kematian. Salah seorang anak lelaki Umi Faras yang masih berusia tiga tahun, sampai sekarang bahkan masih suka gemetar dan menjerit ketakutan jika mendengar suara-suara bising di luar rumah.

"Dia akan menangis dan berteriak, 'ibu .. bom, bom'," tutur Umi Faras.

Lain lagi dengan Alaa Al-Shawwa, seorang anak perempuan Gaza berusia 6 tahun. Ia tidak percaya dengan dongeng-dongeng yang diceritakan ibunya sebelum ia tidur. Ala selalu mengatakan pada orang tuanya, "Tidak Bu. Anak perempuan berbaju merah itu tidak dimakan oleh srigala. Tapi dia dibunuh oleh orang-orang Israel."

Perilaku anak-anak di Gaza, seperti Shaimaa atau Al-Shawwa menunjukkan bahwa mereka mengalami masa-masa yang menakutkan dan penuh tekanan selama berminggu-minggu serangan brutal Israel. Trauma akibat perang telah merampas sifat anak-anak mereka.

"Mereka lupa apa itu damai, gembira dan lucu. Mereka cuma ingat tentang perang, darah dan kematian," kata Fadl Abu Hayen, direktur Center for Social Rehabilitation and Crisis Management.

Itulah gambaran anak-anak di Gaza sekarang, mereka kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan keriangan dan kehangatan. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Queen, Kanada menyebutkan bahwa pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya. (Hanin Mazaya/era/arrahmah.com)

READ MORE - Alfabet Gaza, A Untuk Apache, B untuk Blood (Darah)

Israel Kembali Gempur Terowongan di Selatan Gaza

GAZA (Arrahmah.com) - Israel kembali melakukan serangan udara di wilayah Selatan Gaza untuk merespon satu roket yang ditembakan dari Gaza ke wilayahnya.

Kemarin (3/2) pejuang Palestina menembakan satu misil yang meledak di Kota Ashkelon.

Tidak ada laporan mengenai kecelakaan yang diakibatkan, tapi Israel berjanji akan terus menyerang Gaza, terutama terowongan-terowongan di sepanjang perbatasan antara Palestina dengan Mesir.

Israel berusaha menghancurkan terowongan-terowongan yang ada di wilayah Gaza karena mereka mencurigai masuknya sejata yang digunakan oleh para pejuang Palestina dai terowongan-twrowongan tersebut. Padahal, penduduk Gaza menggunakannya sebagai jalur untuk menyelundupkan makanan dan kebutuhan lain sejak Israel memblokade Gaza selama lebih dari 18 bulan sebelum adanya agresi militer Israel beberapa waktu lalu.

Hingga kini, penduduk Gaza masih menggantungkan hidupnya pada terowongan-terowongan tersebut. Karena Israel terus melakukan blokade terhadap wilayah Gaza.

Para saksi mata mengatakan sedikitnya tiga roket ditembakan oleh Israel. Khan Younis, juga mendapatkan serangan dari Israel kemarin (3/2).

Sementara itu, Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Herzliya, "Aku menyarankan Hamas untuk tidak bermain-main dengan kami."

"Angkatan udara kami akan segera melancarkan operasi jika kami perintah." (Hanin Mazaya/arrahmah.com)
READ MORE - Israel Kembali Gempur Terowongan di Selatan Gaza

Israel Tangkap 12 Penduduk Palestina di Tepi Barat

WEST BANK (Arrahmah.com) - Tentara Pendudukan Israel menangkap 12 penduduk Palestina di wilayah tepi barat, Jenin, al-Khalil dan Nablus.

Tentara zionis Israel juga menangkap dua pemuda (15 dan 17 tahun) dari Beit Fajjar dan melakukan serangan di kamp pengungsian Ad-Duheisha, Selatan Bethlehem. Mereka menggerebek beberapa rumah dan menangkapi para penduduk Palestina.

Di Jenin, tentara zionis membuat keributan di salah satu rumah penduduk dan menangkap dua anggota keluarga di dalamnya, yang berumur 21 dan 30 tahun. Tentara zionis tersebut juga menyita sebuah komputer dan beberapa telephone genggam yang terdapat di dalam rumah.

Di tempat lainnya, di desa Orta, Selatan Nablus, tentara zionis menangkap dua pemuda Palestina.

Tentara Israel melakukan operasi penangkapan penduduk Palestina di tepi barat karena para penduduk mendukung perjuangan pejuang Palestina di Gaza yang bertempur melawan tentara zionis Israel.

Operasi penangkapan dilakukan dini hari pada Selasa (3/2). (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

READ MORE - Israel Tangkap 12 Penduduk Palestina di Tepi Barat

Apakah Ayam-Ayam Ini Ikut Menembakkan Roket?

Siapa yang menyangka bahwa ayam-ayam itu pun akan mengakhiri riwayatnya dengan tragis, menjadi korban kebrutalan Israel. Nasib yang sama seperti yang dialami 49 anggota keluarga yang rumahnya terletak hanya beberapa meter dari kandang tempat ayam-ayam itu tinggal di al Zeitoun sebelah tenggara Jalur Gaza.

Segerombol pasukan Israel datang tiba-tiba dengan tank dan buldozer, menembaki kemudian meratakan semua bangunan yang ada di al-Zeitoun, termasuk peternakan ayam tersebut. Ribuan ayam terjebak di dalamnya. Sebagian langsung mati dan sebagiannya lagi mati perlahan akibat kekurangan pakan dan minum dalam jangka waktu empat hari.

Abu Ahmed al-Sawafari, pemilik peternakan ayam tersebut, memaparkan “Saya bekerja sebagai peternak sudah cukup lama. Saya mengembangkan usaha ini mati-matian. Dan orang-orang Israel itu tiba-tiba datang kemudian meninggalkan bencana di wilayah kami. Mereka telah membunuh ayam-ayam ini, yang sebenarnya memiliki jiwa yang sama seperti manusia. Ayam-ayam ini melemah dan perlahan mati karena kelaparan. Saya heran, mengapa tentara Israel membunuh ayam-ayam ini? Apakah mereka (ayam-ayam ini) juga menembakkan roket ke Israel?”

Aroma kematian menyesaki ruang-ruang udara di sekitar peternakan tersebut. Beberapa ayam yang selamat terlihat berjalan mengelilingi ribuan ‘saudara’-nya yang mati. Dan pertanyaan besar masih menyelimuti tempat itu: mengapa?

Jika saja pertanyaan tersebut langsung ditanyakan pada pasukan Israel, maka sudah bisa ditebak dan dipastikan jawaban macam apa yang akan mereka keluarkan. Mereka ingin melakukan pembalasan atas roket-roket yang diluncurkan dari peternakan tersebut. Atau, di area tersebut bersembunyi para pejuang Palestina yang harus mereka basmi.

Walaupun tentara Israel telah mempersiapkan diri untuk mengklaim ayam-ayam tersebut merupakan para pejuang Palestina atau wilayah peternakan tersebut sebagai tempat dimana roket-roket yang meluncur ke dalam wilayah Israel ditolakkan, semua itu tetap tidak pernah cukup untuk menjelaskan mengapa pengakuan mereka sebagai “tentara paling bermoral” terus-menerus meminta tumbal, yakni pembunuhan besar-besaran atas rakyat sipil atau bahkan ayam-ayam tersebut, di Palestina.
READ MORE - Apakah Ayam-Ayam Ini Ikut Menembakkan Roket?

LEBIH BAIK KAMI MATI DI RUMAH ITU…

Yang terlihat hanya bertumpuk batu bata, logam yang telah berlembar-lembar, dan berbatang-batang kayu yang menghitam. Itulah yang tersisa dari sepuluh rumah warga Palestina di Ezbet Abed Rabu, sebelah timur kota Jabaliya di utara Gaza akibat roket Israel Sabtu lalu.

"Tak ada satupun yang tersisa bagi kami, rumah rubuh dan semua isinya hancur," ratap Suad Muhammad Abed Rabu, seorang perempuan 53 tahun sembari duduk menghadap ruangan rumahnya yang terbakar.

"Lebih baik kami mati di rumah itu daripada tetap hidup sebagai orang buangan," nafasnya terpenggal, "Sejak lahir kami sudah menderita. Sejak 1948 kami berpindah dari tempat pengungsian yang satu ke tempat pengungsian yang lainnya, dari satu perang ke perang yang lainnya. Semuanya, termasuk negara Arab dan Eropa, berencana menyerang kami. Mereka tidak pernah menghendaki kami hidup."

Rumah Abed Rabu ditinggali oleh 14 angggota keluarga. Meskipun sudah sangat hancur, keluarga tersebut memilih untuk tetap tinggal di puing-puing bangunan ketimbang tinggal di tenda pengungsian yang disediakan oleh agen-agen internasional.

Anak-anak bermain-main di tengah reruntuhan rumah yang hancur itu, sementara para orang tua berkumpul di tenda-tenda yang mereka dirikan atau mengantri di kamp pengungsi yang baru dibangun untuk menerima selimut atau barang-barang lainnya.

"Saya di sini untuk menerima selimut," ujar Muhammad Saleh Abed Rabu, salah seorang pengantri, yang kemudian menjelaskan bahwa rumahnya ikut menjadi sasaran penghancuran brutal Israel. "Buldoser-buldoser itu (milik Israel) menyerang rumah tempat kami tinggal bersama 27 orang lainnya."

Di wilayah yang sama, 13 rumah milik keluarga Siyam juga diratakan oleh buldoser dan bahan peledak pada hari pertama penyerangan darat zionis Israel di Jalur Gaza.

"Sebelum mereka menghancurkan rumah, kami mendengar banyak ledakan sehingga kami cepat-cepat melarikan diri. Selama kami berlari, beberapa orang tertembak, sebagian meninggal dan sebagaian lagi terluka. Beberapa hari kemudian, ketika kembali ke wilayah tersebut, rumah-rumah kami hanya tinggal puing-puing saja," Tayseer Siyam mencoba mengingat sembari berdiri di atas reruntuhan bangunan rumahnya. "Saya yakin wilayah kami diserang ketika mereka (Israel) mengetahui bahwa para pejuang tidak ada di sini bersama kami."

Ribuan rumah di berbagai tempat di Jalur Gaza telah dihancurkan Israel selama tiga minggu berturut-turut, yang dimulai pada 27 Desember lalu dengan dalih menghentikan serangan roket dari wilayah Gaza yang masuk ke sejumlah kota di Israel.

Penghancuran rumah-rumah di Gaza yang menyebar luas ini mengingatkan pada duka rakyat Palestina 1948, ketika Israel memindahkan paksa ratusan warga dari ratusan kota di seluruh Palestina dan menempatkan mereka di pengungsian.

Berdasarkan perkiraan, jumlah kerugian di Jalur Gaza sebanyak 2,4 miliar dolar Amerika dan dibutuhkan waktu sekurangnya dua tahun untuk proses rekonstruksi jika rekonstruksi tersebut dimulai secepat mungkin.

Agen-agen internasional penyalur bantuan bagi Gaza menekankan banyaknya upaya yang harus dilakukan untuk mendampingi warga Gaza menyembuhkan trauma dan kerusakan yang disebabkan oleh serangan Israel.

Adnan Abu Hasna, juru bicara badan PBB untuk pengungsian (UNRWA) di Gaza mengatakan, "Situasi ini lebih dari sekedar menyedihkan. Kami telah menyediakan tempat pengungsian yang dilengkapi dengan selimut, makanan, dan barang-barang lainnya, tapi ternyata tidak cukup." (Althaf/arrahmah.com)

READ MORE - LEBIH BAIK KAMI MATI DI RUMAH ITU…

Penderitaan Rakyat Palestina dan Kebrutalan Yahudi

JAKARTA (Arrahmah.com) - Beberapa waktu lalu, tentara zionis Israel mengadakan agresi militer biadab ke wilayah Gaza. Ribuan korban berguguran, gedung-gedung dihancurkan, bahkan mesjid-mesjid ikut menjadi target kebiadaban Israel.

Bantuan kemanusiaan mengalir dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia, MER-C, salah satu organisasi yang ikut menyumbangkan bantuan untuk rakyat Gaza dengan mengirimkan tim medis ke wilayah yang menjadi sasaran Israel tersebut. Selain tim medis, MER-C juga menyampaikan bantuan berupa materi yang dikumpulkan dari para donatur di Indonesia. Hingga hari ini, relawan dari MER-C masih berada di Gaza.

Malam ini (5/2), Ust. Muhammad Abu Jibriel dan Dr. Joze Rizal dari MER-C mengadakan kuliah umum dengan tema "Penderitaan Rakyat Palestina dan Kebrutalan Yahudi" yang akan dilaksanakan di Mesjid Al-Munawarah, Witana Harja, Pamulang pukul 19.00 (ba'da Isya).

Dalam acara juga, Insya Allah akan ditayangkan video tentang penderitaan rakyat Palestina. Untuk para pembaca yang ingin hadir, diharapkan membawa infaq untuk membantu saudara-saudara muslim kita di Gaza. (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

READ MORE - Penderitaan Rakyat Palestina dan Kebrutalan Yahudi

Ekstrimis Agama Meningkat Dalam Angkatan Militer Israel

NAZARETH (Arrahmah.com) - Rabbi-rabbi dan para pengikut mereka, bertekad akan melancarkan "perang suci" melawan penduduk Palestina, yang dengan sembunyi-sembunyi berada di balik tentara zionis Israel.

Dalam sebuah sejarah militer telah tersebar istilah "theologisasi" tentara Israel, di sana kini terdapat satu unit tentara religius, banyak di antara mereka berbasis di Tepi Barat. Mereka menjawab seruan para rabbi garis keras yang meminta perluasan wilayah Israel termasuk wilayah-wilayah Palestina yang diduduki.

Pengaruh mereka dalam membentuk ketajaman metode dan tujuan sudah mulai dirasakan.

"Kami telah menjangkau satu poin di mana kritik dari massa mengenai tentara religius sedang dinegosiasikan dengan angkatan perang tentang bagaimana dan untuk apa kekuatan militer di pekerjakan di medan perang," ujar Yigal Levy, seorang sarjana sosiolog politis dari Universitas Terbuka yang telah menulis beberapa buku mengenai angkatan perang Israel.

Atmosfer baru terasa dengan jelas dalam "banyaknya tentara" yang digunakan dalam operasi militer Gaza baru-baru ini. Lebih dari 1.300 penduduk Palestina dibunuh, dan mayoritas dari korban adalag warga sipil.

"Ketika seorang tentara, termasuk tentara sekular, disusupi ide theologi, hal tersebut akan membuat mereka kehilangan rasa sensitif untuk kemanusiaan dan penderitaan."

Semakin besar peran para rabbi dalam kelompok militer semakin terlihat jelas pada minggu lalu ketika muncul sebuah bukti bahwa angkatan perang dari golongan rabbi telah menyebarkan buklet kepada para tentara yang berisi himbauan untuk dilakukan para tentara selama perang Gaza yang berlangsung tiga pekan.

Yesh Ribut, aktivis kelompok kemanusiaan di Israel mengatakan, materi (pesan-pesan) yang dimasukkan salah satunya adalah "hasutan kebencian untuk memerangi penduduk Palestina" dan mungkin mereka mengatakan akan mendukung para tentaranya untuk mengabaikan hukum internasional.

Buklet tersebut ditandatangai oleh Shlomo Aviner, seorang rabbi yang menjadi pemimpin di Timur Yerusalem. Ia mengatakan penduduk Palestina dan Palestin dalam kitab suci mereka adalah musuh Yahudi. (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

READ MORE - Ekstrimis Agama Meningkat Dalam Angkatan Militer Israel

Israel Menembaki Kapal Bantuan Untuk Gaza

GAZA (Arrahmah.com) - Kapal perang Israel menghentikan sebuah kapal milik Libanon yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza, sekitar 20 mil dari wilayah pantai.

Kapal yang membawa 60 ton obat-obatan, makanan, mainan anak dan buku-buku, diblokade Israel dan dilarang untuk memasuki Gaza, pada Rabu sore (4/2).

"Kapal yang membawa bantuan kemanusiaan tersebut mendapat tembakan dari tentara Israel dan kapal diminta untuk berbalik arah," ujar Maan Bashur, koordinator bantuan dari Libanon seperti yang dilansir Press TV.

Kapal dengan sembilan orang di dalamnya meninggalkan pelabuhan Tripoli, Libanon pada Selasa pagi.

Pada bulan januari, kapal lain yang membawa bantuan untuk Gaza juga dihadang Israel dan dilarang masuk ke wilayah Gaza. (Hanin Mazaya/arrahmah.com)
READ MORE - Israel Menembaki Kapal Bantuan Untuk Gaza

Sabtu, 03 Januari 2009

Palestina butuh Bantuan Umat Islam

Mufti Republik Mesir, Dr. Ali Jum’ah mengecam keras pembantaian yang dilakukan Israel terhadap penduduk Gaza dan menyatakannya sebagai tindakan biadab.

Kepada koran harian Misr El-Youm (28/18/08) Dr. Ali Jum’ah mengutarakan, "Tindak kriminal yang dilakukan Israel atas warga Gaza merupakan pelanggaran yang paling keji terhadap kemanusiaan. Israel harus menghentikan segala aksi biadabnya terhadap warga Palestina, anak-anaknya, perempuan, dan orang tua."

Dr. Ali Jum’ah menambahkan, "Seluruh dunia pernah mengecam Nazi karena tindakan kejinya membantai Yahudi. Kini pembantaian keji itu terulang di Palestina yang ditentang oleh seluruh agama, Islam, Kristen, Yahudi, seluruh agama timur, dan ditentang oleh seluruh bani Adam yang berakal."

Dalam kesempatan itu Dr. Ali Jum’ah juga meminta kepada seluruh organisasi internasional agar serius dalam menjalankan seluruh keputusannya terkait penghentian penjajahan yang dilakukan Israel, serta melaksanakan seluruh isi deklarasi HAM yang menentang pembantaian dan kekejian."

Dr. Ali Jumah juga menyeru seluruh umat Islam dunia untuk bersatu menghadapi Israel. Beliau mengatakan, "Ini adalah fardhu ‘ain bagi setiap umat Islam, baik pemimpin maupun rakyat biasa. Tidak hanya diam di hadapan bala dan musibah besar ini."

Pemimpin Umum Majma' Al-Buhust Al-Islami Mesir, Syekh Ali Abdul Baqi hampir tidak percaya terhadap kondisi buruk yang menimpa Gaza dengan mengatakan, "Di mana Arab? Di mana mata hati dunia di hadapan pembantaian massal seperti ini?" (MYJ/Sumber-Koran harian Misr El-Youm (MEL). Kiriman dari Muhammad Yasin, Cairo Mesir. (erm/fani)

READ MORE - Palestina butuh Bantuan Umat Islam